Illustrasi, Balita Menderita TBC. (Foto ist)
MONITORKOTA.COM – Temuan kasus tuberkulosis (TBC) pada usia anak mencuri perhatian, jumlahnya lebih besar dibandingkan temuan kasus di usia dewasa. Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mesti bekerja keras untuk mencapai target eliminasi penyakit ini di tahun 2030.
Berdasarkan data laporan penemuan dan pengobatan pasien TBC tingkat kabupaten atau kota, jumlah pasien TBC di Kota Bekasi sampai dengan bulan Maret 2023 sebanyak 2.075 pasien.
Ribuan pasien tersebut terdiri dari anak-anak usia 0 sampai 14 tahun, usia dewasa, hingga masyarakat usia diatas 65 tahun, (lihat grafis). “Periode Januari sampai Maret 2023 terdaftar 2.075 pasien,” ungkap Plt Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Hadi Prabowo.
Sementara pada tahun sebelumnya, catatan temuan sebanyak 10.747 kasus di Kota Bekasi. Jumlah kasus di tahun 2022 didominasi usia dewasa, yakni 15 sampai 65 tahun.
Dalam mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini, Pemkot Bekasi pernah menggelar skrining gejala TBC dan Rontgen dada, diikuti oleh ribuan orang, mulai dari pegawai PNS, non PNS, hingga masyarakat umum. Kegiatan ini salah satunya untuk mencapai target eliminasi penyakit TBC di tahun 2030.
Pada peringatan hari TBC sedunia 24 Maret kemarin, penyuluhan TBC anak dilakukan di salah satu RS di Jatisampurna, Kota Bekasi. Penasehat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Perwil Bekasi, Triza Arif Santosa menyampaikan bahwa TBC dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
Pasalnya, penyakit yang disebabkan oleh kuman TBC atau Mycobacterium Tuberculosis ini, selain paru juga dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kondisi ini dikenal dengan TB ekstra paru.
“TBC bisa mengenai organ tubuh selain paru, seperti otak, kulit, tulang, jantung, usus, ginjal, dan hati,” kata Triza usai mengisi kegiatan penyusunan TBC anak serentak seluruh Indonesia belum lama ini.
Ia menjelaskan bahwa TBC yang kerap disebut sebagai flek bukan penyakit yang timbul dari faktor keturunan, melainkan penyakit menular. Penyakit ini dapat menular melalui percikan dahak, pasien TB aktif dapat menularkan penyakit ini pada 10 sampai 15 orang disekelilingnya setiap tahun.
Maka kata Triza perlu diwaspadai kontak erat anak-anak dengan pasien TBC. Kontak erat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan resiko TBC pada anak, disamping faktor lain yakni usia, dan kekebalan tubuh.
Salah satu contohnya, anak harus diperiksakan ke dokter jika diketahui pengasuh yang sehari-hari berinteraksi dengan anak dinyatakan menderita TBC. Pemeriksaan oleh dokter dilakukan dengan foto Rontgen dada atau pemeriksaan dahak.
“Balita dan remaja beresiko tinggi sakit TBC. Kekebalan tubuh yang turun juga meningkatkan resiko sakit TBC, seperti Gizi Buruk, DM (diabetes), penyakit keganasan, konsumsi obat steroid jangka panjang, HIV, dan lain-lain,” ungkapnya.
Orang tua mesti mengenali gejala TBC pada anak, diantaranya pada saat mendapati anak menderita batuk dalam waktu lebih dari dua pekan meski sudah diberi pengobatan, demam lebih dari dua pekan, berat badan turun atau tidak berubah selama dua bulan kebelakang, serta anak menjadi lesu atau tidak seaktif biasanya.
Triza menyarankan kepada orang tua untuk segera membawa anak-anaknya ke dokter atau fasilitas kesehatan jika mendapati gejala tersebut. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan cara meminum obat teratur, serta tuntas berdasarkan lamanya waktu pengobatan.
Dengan catatan tidak putus berobat, atau obat tidak diminum teratur. Jika hal ini terjadi, maka dikhawatirkan penyakit akan bertambah parah, bahkan kuman TBC menjadi kebal obat. (tri)
